07 — a painful way to say “I love you”

Peringatan terakhir tenggat pembayaran sewa. Jika dalam minggu ini masih belum dilunasi, tidak ada toleransi lagi dan silakan bereskan barang-barang milik kamu dari flat saya, sebelum saya minta orang lain untuk mengeluarkan paksa barang-barang milik kamu.

Pesan teks yang masuk pagi-pagi buta menjadi alasan bagi Ivan untuk mengambil jatah bolos dari dosen mata kuliah hari ini. Selama seharian penuh, ada banyak hal yang dikerjakan olehnya. Ivan memulainya dari menawarkan diri untuk membantu pedagang ikan yang tengah kewalahan melayani banyak pembeli. Siang harinya, ia mengambil paruh waktu di pencucian mobil. Sementara malam ini, Ivan berencana untuk mendatangi kafe yang beberapa hari lalu menerima Ivan sebagai pengisi lagu di atas pentas.

Nyaris tiga bulan belakangan, uang bulanan yang dikirimkan oleh orang tuanya lebih sedikit sehingga Ivan terlampau sering menunggak uang sewa. Ia bukannya boros, justru Ivan mulai membuat pembukuan atas pengeluaran dan pemasukannya sendiri sejak tinggal seorang diri di kota besar. Kendati begitu, hanya dengan mengatur keuangan saja tidak cukup untuk menjalani kehidupan perkuliahannya sehari-hari dengan uang yang sedikit. Ia harus mencari tambahan agar bisa melangsungkan hidup. Sebab, ia bukan lagi anak di bawah umur yang hanya bisa mengandalkan orang tua.

Ivan masih mengingat bagaimana kedua orang tuanya tersenyum bangga tatkala ia mengabarkan mereka bahwa ia menerima beasiswa kuliah di kampus ternama, sehingga ia mampu melanjutkan perguruan tinggi tanpa harus membebankan mereka. Namun, kebahagiaan itu bukan menjadi penentu bahwa lika-liku kehidupan Ivan selanjutnya akan terus dipenuhi oleh senyum. Itu hanya permulaan. Ke depannya, ia masih harus menghadapi rintangan yang sebenarnya dalam menempuh pendidikan. Ia bukan lagi seorang siswa SMA yang masih dibimbing dari nol oleh guru yang mengajar, dan terus-terusan menadahkan tangan pada orang tua untuk meminta uang saku. Menghadapi realitas dalam dunia perkuliahan juga merupakan langkah awal baginya untuk belajar menjadi dewasa. Jauh dari rumah, orang tua, dan teman-teman sekolah.

Tentu, ia penat. Punggungnya pegal-pegal setelah seharian penuh berkelana. Ia hanya mampir sejenak ke flatnya untuk mandi dan mengenakan pakaian rapi, yakni setelan kaus yang dilapisi oleh jaket hitam panjang dengan syal yang melingkar di leher hingga dada untuk menghalau dinginnya malam. Setelah ini, tujuannya ialah kafe yang terletak di dekat perpustakaan umum. Ia tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apa pun untuk memperoleh pundi-pundi uang. Sebab, lebih baik pegal-pegal sekarang ketimbang berakhir tidur di tepi jalan.

Ivan beranjak menelusuri trotoar di sepanjang jalan. Melewati bangku panjang yang ditempati oleh pasangan heteroseksual yang saling bercumbu mesra, melintasi pedagang jagung bakar di pinggir jalan, hingga menapak di tepi halte yang sepi. Lokasi kafe berkisar kurang lebih seratus meter lagi. Ivan bertekad akan segera tiba di sana tepat tiga puluh menit sebelum waktu yang ia janjikan.

Ketika itu, Ivan berpapasan dengan sosok berambut pirang yang familier di matanya. Ia tengah memeluk dua tumpuk map plastik berisikan beberapa buku tebal. Pakaiannya tampak kasual, hanya selapis kaus putih dipadu dengan celana krim pendek selutut. Ivan kenal, namun tidak dekat. Namanya Luka, ia pernah satu SMA dengannya namun tidak pernah satu kelas. Sekarang, ia sekelas dengannya karena berada di jurusan yang sama di kampus, namun Ivan tidak ingat kapan terakhir kali mereka saling bicara—atau bahkan mungkin sama sekali belum pernah.

Hanya dalam sekali tatap, Ivan menangkap ada sesuatu yang salah dari cara Luka berjalan. Langkahnya terlampau pelan, postur tubuhnya lebih bungkuk dari biasanya. Pemikiran itu hanya terlintas selayang pandang hingga Luka berjalan melewatinya dan Ivan tak lagi melihat presensinya di hadapan mata. Luka beranjak menuju halte, sementara Ivan lanjut berjalan melewati halte.

Namun, derap langkah Ivan refleks terhenti tatkala ia mendengar suara debuman keras yang berasal dari sosok pirang tersebut. Ia lantas menoleh ke belakang; mendapati buku-buku milik Luka jatuh berceceran di lantai halte, sementara Luka sendiri terjerembap ke lantai dengan tubuh gemetar.

Batin Ivan lantas menyuruhnya untuk menghampiri Luka, namun kepalanya berteriak mengingatkan bahwa ia seharusnya tidak terlambat datang ke kafe sesuai janji. Kendati begitu, kedua kakinya lebih memilih untuk mengikuti kata hati. Ia segera menghampiri Luka dan refleks menyambar buku-buku tersebut dengan niat untuk membantu Luka menyusunnya kembali ke dalam map plastik. Namun, pergerakan Ivan terhenti tatkala ia menyadari bahwa Luka membutuhkan pertolongan lebih dari sekadar memunguti buku-bukunya yang berserakan saja.

Warna bibir Luka tampak biru keabuan, ruas-ruas jarinya yang biasanya tampak keunguan kini warnanya lebih membiru. Deru napasnya memburu, setiap tarikan napas seolah-olah membuatnya merasakan sakit. Otot-otot lehernya tampak kaku dan tegang acapkali memaksakan diri untuk menghirup oksigen ke dalam paru-parunya.

“Hei, Luka. Ini aku ... Ivan,” tuturnya panik seraya memegang kedua bahu Luka. Sementara itu, tatapan Luka belum sepenuhnya fokus. Pupil keemasannya yang secara berangsur menatap ke arah Ivan membuat Ivan segera memaksakan senyum padanya.

“Rileks, rileks. Atur napas, ya? Aku bantu kamu pindah ke tempat yang lebih nyaman.”

Luka tak menjawab; membiarkan Ivan melakukan apa pun yang bisa ia perbuat untuk menolongnya. Ivan segera menanggalkan jaket panjangnya dan dipakaikan pada Luka untuk menghalau udara dingin malam itu. Setelahnya, Ivan mengambil salah satu tangan Luka dan dilingkarkan ke pundaknya. Ia pun turut melingkarkan tangannya di punggung Luka seraya memapah lelaki itu menuju bangku halte.

“Duduk bentar, aku bantu ambilin barang-barang kamu,” ujar Ivan usai membantu Luka pindah ke bangku halte.

Ivan kembali berjongkok dan memunguti buku-buku Luka seraya memasukkannya ke dalam map plastik. Buku-buku itu semuanya merupakan buku referensi mata kuliah. Ivan tahu benar bahwa sosok langganan peringkat satu semasa SMA tersebut acap menghabiskan waktunya untuk berteman dengan buku tanpa menjalin pertemanan dengan anak-anak sebayanya. Ia hanya pernah melihat Luka ikut makan siang bersama sepasang saudara kembar bernama Hyuna dan Hyunwoo, namun frekuensinya tak sering seperti dirinya dan Till yang acap menghabiskan waktu makan siang bersama setiap hari. Ivan hanya sering melihat eksistensi Luka di perpustakaan atau di ruang guru.

Senyum Ivan mendadak getir tatkala nama itu tanpa sadar muncul kembali dalam kepalanya. Sudah lama Till tak menghubunginya lagi sejak terakhir kali ia menyatakan perasaan padanya. Ivan tahu bahwa Till tak bermaksud untuk memutus hubungan persahabatan mereka yang telah terjalin sejak lama. Ia bukan orang yang seperti itu. Namun, barangkali lelaki itu dibuat terkejut dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mengetahui bahwa Ivan yang merupakan sahabat dekatnya sendiri menganggapnya lebih dari sekadar itu. Ivan berusaha memahaminya, kendati ia merasa bodoh dan menyesal karena pengakuannya itu hanya berujung membuat jarak antara dirinya dengan Till berangsur menjauh.

Ivan kembali menghampiri Luka seraya meletakkan barang-barang milik Luka di atas bangku. Persetan dengan pemilik kafe yang tengah menunggui kedatangannya, Ivan lebih tidak sampai hati lagi bila Luka tidak mendapatkan pertolongan darurat malam ini. Sebab, gejalanya tampak serius. Ivan tak pernah menyaksikannya secara langsung sebelumnya. Namun, kadang-kadang ia pernah melihat Luka dipapah keluar dari barisan ketika upacara bendera di sekolah, atau tak sengaja bertemu dengan Luka yang tengah beristirahat di ruang UKS ketika Ivan mampir untuk mengambil kotak P3K. Menurut pernyataan yang pernah ia dengar dari teman-temannya yang pernah satu kelas dengan Luka, imun Luka lebih lemah dari kebanyakan orang dan rentan sakit, namun memiliki otak yang super jenius. Sebab itulah, Ivan tidak pernah sekali pun melengserkan Luka dari takhtanya selama SMA.

“Kamu bawa obat?” tanya Ivan seraya mengusap-usap pelan punggung Luka.

Luka mengangguk lemah. Jemari kebiruannya perlahan meraba kantong celana, namun gerakannya gemetar. Melihat Luka yang kesulitan lantas membuat Ivan refleks menahan tangannya, kemudian Ivan sendiri yang merogoh isi kantong celana milik Luka dan menemukan satu strip obat-obatan oral di dalam sana.

“Aku ... enggak punya air ...,” bisik Luka lirih, kemudian sesekali terbatuk. Oksigen yang dihirupnya masih belum cukup, sementara udara terlampau sulit untuk menyusup ke organ respirasinya.

“Aku bawa, kok.”

Ivan segera melepas ranselnya, kemudian mengeluarkan sebotol air mineral. Ia pun mengangsurkan obat tersebut ke tangan Luka, sementara Luka segera mengeluarkan beberapa butir obat sesuai dosis seraya memasukannya ke mulut. Dengan hati-hati, Ivan membantunya untuk menenggak air dan memastikan agar volumenya tidak terlampau banyak agar Luka tidak tersedak karenanya.

“Tahan sebentar, ya? Aku pesanin Go-Car. Aku rasa kamu butuh ditangani dokter secepatnya.”

Luka lantas menggeleng pelan seraya menghentikan Ivan untuk mengambil ponsel dengan cara menggenggam lengannya. “Enggak usah ... aku belum punya uang buat berobat,” ujarnya lirih, “tolong ... antar aku pulang aja. Enggak usah khawatir, aku ... bakal ingat untuk balas budi ....”

Lelaki pirang itu kemudian menarik napas panjang seraya menekan dada kirinya. Masih belum cukup, namun rasanya sakit acapkali ia memaksakan diri untuk menghirup lebih banyak udara ke dalam paru-parunya.

“A-aku—”

Ucapan Ivan sejenak terjeda; ragu-ragu apakah ia harus menolong Luka lagi melebihi kemampuannya. Namun, melihat Luka yang terengah-engah, pucat pasi nyaris seperti mayat hidup; hal itu membuat Ivan tidak tahu lagi nasib siapa di antara mereka yang lebih mengenaskan.

“—aku punya uang, kamu bisa pakai dulu untuk bayar biaya berobat.”

Masih ada tiga hari lagi sebelum tenggat waktu. Bila Ivan tidak sanggup membayar uang sewa, ia hanya akan tidur di pinggir jalan. Namun, jika saja malam ini Luka tidak mendapatkan pertolongan medis—Ivan sama sekali tak ingin membayangkan kemungkinan terburuk itu terjadi pada Luka.