03 — a painful way to say “I love you”
Detik demi detik acap berlalu. Detak jarum jam dinding mengisi hening dalam jeda di antara mereka yang membisu. Dua pasang mata itu tak saling beradu. Salah satunya kosong seolah tak bernyawa; sepasang dwimanik lainnya tertunduk memendam berbagai rasa yang amat menyesaki dadanya.
Terakhir kali, dua pasang mata itu masih sanggup beradu pandang; kendati kala itu keduanya saling berlinang air mata. Tiada memori yang layak dikenang pada pertemuan terakhir mereka. Mereka saling menunjuk, menuduh, dan beradu argumen tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertengkaran mereka yang pertama akan menjadi penyebab hubungan mereka berakhir kandas setelahnya.
Ivan dan Luka. Dua nama, satu cinta—di masa lampau, ironisnya. Sebelum akhirnya cinta itu terpecah-pecah, sebelum keegoisan datang menggerogoti hubungan mereka; mereka pernah saling jatuh cinta seolah seluruh semesta akan hancur berkeping-keping bila mereka tidak bersama.
Sejak pertengkaran itu, Luka menghilang sepenuhnya dari kehidupan Ivan. Di hadapan Luka, Ivan mampu menyalahkan sepenuhnya kepada Luka atas pengkhianatan yang dilakukannya. Namun, tatkala Luka tak lagi berada di sisinya, Ivan mulai mengingat kembali ucapan demi ucapan Luka yang berbalik menyalahkan sikapnya. Hari demi hari usai Ivan tak mampu menemukan eksistensi Luka, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin Luka benar, pikirnya.
Tak ubahnya Luka, kekosongan lambat laun menduduki isi hatinya yang dulu pernah dipenuhi oleh cinta dan rasa kasih. Ia memutuskan untuk kembali pada ayahnya—sosok yang memandang dirinya sebagai aset ketimbang menyayanginya sebagai seorang anak. Ivan tidak salah, dan Luka telah mendustai cinta yang Ivan berikan padanya dengan cara yang berdosa. Pikirnya, mungkin cara terbaik untuk menghukum dirinya sendiri ialah kembali pada sosok yang selama ini menjadi sumber trauma dan rasa sakitnya selama hidup.
“Kenapa ....”
Ivan memecah keheningan. Pupil merahnya bergerak; menatap sosok berambut pirang yang terbaring di atas ranjang pasien. Pemandangan yang tentunya bukan pertama kali dilihat Ivan. Luka, terbaring di atas ranjang, punggung tangannya dialiri oleh cairan infus, serta nasal kanula terpasang di lubang hidungnya. Hal yang membedakan hanyalah bagaimana cara Luka membalas tatapannya. Dingin, tanpa emosi; persis seperti ketika Luka masih menganggapnya sebagai seorang kenalan belaka. Tatapan itu juga menyiratkan bahwa ia tengah menunggui kalimat lanjutan Ivan yang masih menggantung.
Mungkin seperti itulah tatapan yang acap ditujukan Luka pada sosok yang dibencinya. Kata 'benci' mungkin terlalu kuat. Namun, di satu waktu, Ivan pernah mendengar Luka berkata bahwa ia membenci eksistensi manusia. Bagi Luka, eksistensi manusia di muka bumi hanyalah sebagai makhluk yang acap membuat kerusakan di balik tatanan yang mereka ciptakan dengan menjanjikan seonggok kedamaian dan harapan palsu. Maka mungkin, saat ini eksistensi Ivan hanya tak lebih dari sekadar seorang manusia belaka di mata Luka, dan bukan siapa-siapa lagi baginya.
Dalam satu tarikan napas, Ivan melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda.
”... kenapa nomorku ada di daftar kontak darurat kamu?”
Hening menjeda sepersekian detik yang acap berlalu. Luka mengalihkan tatapannya pada pemandangan di balik kaca jendela; menghabiskan detik demi detik yang berlalu untuk berkontemplasi sejenak atas pertanyaan yang diajukan Ivan padanya.
“Kamu mau jawaban jujur?” tutur Luka lirih.
Selagi Ivan tergugu, Luka menolehkan kepala ke arah kaca jendela membelakangi Ivan—menyembunyikan riak basah yang tak sanggup lagi dibendung oleh kedua mata Luka yang memanas. Ia mengambil napas dalam-dalam seraya mengusap jejak basah di wajahnya secara sembunyi-sembunyi.
Jauh di lubuk hati Luka, ia rindu pada kehangatan yang pernah Ivan berikan melalui genggaman tangan. Ia mengubur dalam-dalam hasrat dalam dirinya untuk menarik Ivan ke dalam pelukannya. Luka merasa tak pantas untuk segala hal yang ia dambakan, bahkan untuk bersitatap dengan dwimanik obsidian yang amat dirindukannya selama ini. Maka itulah, Luka sengaja menghindari tatapannya, pun menghindari secara penuh tanpa sedikitpun memberi celah bagi Ivan untuk melihat bagaimana ia menyembunyikan luapan emosi yang tak sanggup ia bendung lagi; kendatipun Luka juga ingin melihat bagaimana ekspresi Ivan ketika tiba waktunya bagi Luka untuk memberi penjelasan.
“Iya, kasih tahu aku.”
Ivan sama sekali tidak berubah. Ia masih Ivan yang sama seperti yang selalu Luka kenal. Ia tak berusaha menarik bahu Luka dan melihat bagaimana wajah yang tadinya dingin itu berubah menjadi sosok pecundang yang dipenuhi rasa sesal. Ivan hanya ingin mendengar. Entah itu hal baik atau buruk, Ivan hanya ingin tahu kenyataannya. Sama seperti saat terakhir ketika mereka bertengkar di hari itu.
Luka mengambil napas dalam-dalam. Tanpa memalingkan wajah, Luka pun berkata, “Sebelum itu, nama Hyuna juga pernah ada di daftar kontak daruratku.”
Sejumput tawa getir yang lirih mulai terujar dari bibir Luka. Ivan tak mampu menebak apakah Luka tengah tertawa atau terisak. Sebab, dari sepatah kalimat yang Luka ucapkan, Ivan mampu menangkap getaran di balik kata demi kata yang terujar.
“Enggak cuma Hyuna, aku juga pernah masukin kontak-kontak partner seksku.”
Tenggorokan Ivan tercekat. Ia meremas buku-buku jarinya hingga memutih.
“Partner ... seks ...,” gumam Ivan pelan.
Bibir Ivan mengatup rapat. Isi kepalanya mulai berkecamuk. Ia tidak pernah tahu bagaimana seluk beluk kehidupan Luka usai Luka memutuskan untuk angkat kaki dari apartemen kecil yang pernah mereka tinggali bersama. Mungkin hal itu adalah sisi lain dari Luka yang tak pernah Ivan kenali selama ini, atau mungkin Luka mendambakan hal baru usai janji-janji yang pernah mereka buat di masa lampau hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.
“Aku benci ngomong ini, tapi ... kondisi kesehatanku enggak stabil setelah kita berpisah.”
Luka masih tetap mempertahankan posisinya. Tatapannya mengarah pada kaca jendela, tanpa sedikit pun menoleh kembali pada Ivan. Sementara itu, Ivan masih membisu. Jarang sekali Luka mendominasi percakapan di antara mereka. Namun, ketika Luka mulai mendominasi percakapan, maka Ivan akan merenungkan kalimat demi kalimat yang terujar darinya. Sebab, dengan menjadi pendengar, maka hal-hal yang Ivan pertanyakan dalam benaknya sendiri barangkali akan terjawab satu demi satu.
Ivan kembali mengingat apa yang menjadi titik awal dari hubungan mereka di masa lampau. Ia dan Luka menempuh pendidikan tinggi di kampus yang sama. Saat itu, Ivan hanya mengenali Luka sebagai siswa paling berprestasi semasa mereka masih SMA. Ketika SMA, Ivan kerap berada di posisi tiga besar, namun tak pernah mencapai peringkat pertama karena takhta itu selalu dipertahankan Luka hingga mereka lulus.
Siapa sangka, pemegang peringkat pertama itu mengambil jurusan yang sama dan di kampus yang sama dengan Ivan. Pada mulanya, Ivan hanya menganggap Luka sebagai kenalan belaka seperti ketika mereka masih SMA. Namun, di suatu waktu, Ivan tak sengaja melihat Luka yang kolaps dan ia berniat untuk menolongnya. Sejak hari itu, Ivan mulai tahu bahwa Luka mengidap penyakit jantung bawaan sejak kecil, dan ia bisa saja kolaps di mana pun bila tubuhnya terlampau diforsir untuk beraktivitas. Karena itulah, Ivan mulai memberikan atensi lebih padanya. Ia selalu mengingatkan Luka untuk makan bila ia lupa mengisi perutnya saat tengah mengerjakan tugas, bahkan Ivan turut menghafal resep obat milik Luka agar ia bisa selalu mengingatkan Luka untuk meminumnya.
Dengan adanya presensi Ivan di sisi Luka kala itu, Luka lebih jarang jatuh sakit. Sebab, ada Ivan yang acap membantunya untuk menjaga pola hidup. Luka tidak pernah peduli akan kondisi tubuhnya yang lebih lemah dari kebanyakan orang. Kendati begitu, Ivan selalu peduli. Maka itulah, ketika Luka baru saja berkata dengan jujur bahwa kondisi kesehatannya tidak stabil usai mereka berpisah, ada sepatah kalimat yang tertahan di kerongkongan Ivan yang tak mampu ia utarakan pada Luka.
Kalau kamu masih butuh aku, tolong kembali.
Namun, Ivan tetap membisu. Sebab, kalimat itu tertahan oleh kepingan memori yang amat menyakitkan baginya untuk dikenang. Ia menginginkan Luka untuk kembali. Di sisi lain, ia terlampau takut bila Luka akan membuang dirinya lagi untuk yang kedua kali.
Di tengah hening panjang yang menenggelamkan Ivan dalam kontemplasi, Luka membuyarkannya dengan melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung.
“Karena itu, aku mulai masukin siapa pun sebagai kontak darurat,” tuturnya pelan. “Setiap kali aku kolaps, orang yang nolong atau pihak rumah sakit bakal pakai ponselku untuk menghubungi nomor yang kucantumin di kontak darurat saat itu.”
Luka menarik napas panjang. Postur tubuhnya masih membelakangi Ivan. Ia meremas pelan kain selimut yang menutupi tubuhnya.
“Aku cuma pengin tahu, apakah mereka yang pernah ngomong kalau mereka cinta sama aku, bakal datang di saat-saat seperti ini?”
Setelah itu, Luka kembali tertawa getir. Ivan terpaku sejenak, kemudian mengusap helaian poninya yang menutupi mata. Ia tidak spesial. Ia bukan satu-satunya kontak yang Luka cantumkan sebagai kontak daruratnya. Fakta itu membuat Ivan merasa sakit karena dirinya sempat berpikir bahwa Luka masih memiliki ruang yang lebih besar untuknya setelah segala hal yang telah terjadi.
“Dari semua kontak, hanya dua orang yang kasih aku tanggapan.”
Ivan menenggak salivanya perlahan, kemudian berkata, “Salah satunya adalah Hyuna?”
Nama itu terlampau berat bagi Ivan untuk ia ucapkan. Sebab, nama itu dimiliki oleh sosok yang merupakan cinta pertama Luka. Seperti bagaimana ketika nama Till pernah terukir di hati Ivan, Luka juga punya seseorang yang menempati hatinya hingga ia rela mendustai segala janji yang pernah mereka ukir bersama. Kedua nama itu telanjur menjadi penyebab putusnya benang merah yang pernah terjalin pada mereka. Luka memang mendustainya. Namun, Ivan menyadari bahwa sesungguhnya dirinyalah yang terlebih dulu mendustai cinta yang pernah Luka anugerahkan untuknya.
“Benar,” respons Luka cepat, “tapi, dia enggak datang kemari kayak kamu, melainkan mendoakan supaya aku segera mati saja. Kejadiannya kurang lebih sebulan lalu.”
Mendengar hal itu, Ivan refleks berdecak seraya menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tidak terkejut. Namun, ia lebih memikirkan berulang kali mengapa ia harus rela mengambil cuti dadakan dan tergopoh-gopoh untuk datang menemui Luka, hanya untuk menelan fakta bahwa tiada yang bisa ia perbaiki lagi dari hubungan mereka.
Kata maaf terlampau kelu untuk terlontarkan dari bibir Ivan bila mengingat bahwa Luka pernah mengkhianatinya dengan cara yang terlampau kejam. Namun, ketika Ivan kembali mengenang rentetan kalimat yang pernah Luka tujukan padanya ketika mereka bertengkar, Ivan tahu bahwa Luka pun juga sama. Sebelum memutuskan untuk berbalik berkhianat, Luka telah memendam rasa sakit itu seorang diri tatkala Ivan mengedepankan sisi egoisnya untuk tetap mengejar cinta pertamanya, ketika dirinya telah mengikrarkan pada Luka bahwa hatinya hanyalah milik Luka seorang.
Kendati begitu, bagi Ivan tetap saja Luka tak pantas untuk mendengar kata maaf darinya. Mungkin Luka pun juga akan memikirkan hal yang sama dari sudut pandangnya sendiri. Pada akhirnya, tiada kata maaf yang pernah terucap dan benang merah itu akan selamanya menghitam tanpa pernah tertenun lagi.
“Berarti, setelah sebulan kemudian, harapannya nyaris terkabul,” respons Ivan.
Lantas, Luka pun refleks menoleh kembali dan menatap wajah Ivan tanpa ekspresi. Ia terpaku sejenak pada sorot dwimanik obsidian Ivan yang diselimuti oleh berbagai rasa kekecewaan dan perasaan lain yang turut berkecamuk dalam jiwanya. Tak lama kemudian, Luka refleks tertawa hingga kedua matanya berair.
“Kalau kamu pun juga berharap supaya aku mati, apa itu harga yang setimpal dengan apa yang pernah aku perbuat ke kamu di masa lalu?”
Kali ini tatapan Luka tepat tertuju pada Ivan. Terlampau banyak gelembung emosi yang tersimpan dalam tatapan itu, hingga Ivan sendiri tak mampu menemukan cara untuk menafsirkannya. Satu hal yang mampu Ivan tangkap dari tatapan Luka, itu adalah tatapan yang sama ketika terakhir kali mereka bertemu, ketika Luka menarik kerah pakaian Ivan dan berkata bahwa tak hanya dirinya saja yang salah, namun Ivan sendiri juga sama.
“Mati sekalipun enggak akan pernah bisa menghapus kenyataan bahwa bekas lukaku enggak akan pernah bisa sembuh, Luka,” balas Ivan pelan.
Luka tertawa renyah mendengar kalimat itu. “Lantas aku sendiri gimana, Ivan? Aku juga terluka, dan kamu yang biarin luka itu bernanah sampai akhirnya membusuk.”
Ivan meremas buku-buku jarinya hingga memutih. Gigi-giginya menggeletuk mendengar pernyataan Luka.
“Setelah membusuk, kamu jadiin hal itu sebagai alasan untuk berbalik berkhianat? Bukan begitu cara cinta bekerja, Luka.”
Nada suara Ivan mulai meninggi, kedua matanya berkaca-kaca. Sementara embusan napas Luka kini terdengar bergetar. Tenggorokannya tercekik sebab Luka amat menahan diri agar tangisnya tidak pecah di hadapan Ivan.
“Kalau saja aku tahu bahwa sampai sekarang pun kamu selalu anggap aku sebagai pihak yang salah, aku menyesal karena udah berharap pada hal-hal bodoh dengan cara masukin nomor kamu ke kontak daruratku.”
Luka menarik selimutnya dan kembali meringkuk membelakangi Ivan. Kedua bahunya naik turun, sementara air matanya lolos hingga jatuh membasahi seprai bantal yang ia tiduri.
“Maaf karena udah bikin kamu buang waktu hanya untuk ini. Kalau kamu mau pulang sekarang, enggak apa-apa. Yang sesungguhnya pengin kukatakan ke kamu cuma ... aku benar-benar rindu kamu, Ivan.”
Sepasang bibir Ivan mengatup rapat. Rasanya ia nyaris lupa bagaimana caranya bernapas.
“Karena mau bagaimanapun, Ivan—”
Jeda sejenak, Luka mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali menyambung kalimatnya.
“—kamu adalah satu-satunya orang yang pernah benar-benar cinta sama aku.”